Aku akan segera bergabung ke masa silam alias akan dipanggil oleh Tuhan, Kata seorang kiyai pada suatu sore kepada santri-santrinya, aku akan segera berlalu, masaku akan segera dikuburkan, kamu sekalian akan segera memasuki masa peralihan dan anak-anakmu akan menjadi penghuni jaman baru yang dahsyat dan mengagumkan setelah masa yang kamu lewati.
Hamba mohon pak Kyai memberikan gambaran mengenai masa yang akan dilewati oleh anak-anak kami, kata seorang Santri kepada sang Kyai.Sang Kyai tersenyum, bahasa seperti itu adalah bahasa-bahasaku dan bahasamu yang nantinya akan terkubur bersamaku, kelak bahasa seperti itu sudah tidak dikenal lagi oleh anak-anakmu, hanya bahasa extacy, rap dan bahasa-bahasa yang makin tidak mengenal sopan santun.
kini berlatihlah untuk meninggalkan upacara dan jenis sopan santun yang diajarkan secara bertele-tele semacam itu, dan temuilah jenis kehidupan yang praktis, prakmatis, yang efektif dan efisien.
Kemudian karena engkau adalah bapak-bapak dari anak-anakmu kelak, dan jalan hidup baru itulah model utama yang engkau ajarkan kepada anak-anakmu, agar mereka sanggup berlari seirama dengan jaman yang mereka jalani. Cara hidupmu yang bertele-tele jangan engkau warisi dan wariskan kepada generasi dibawahmu, agar mereka tidak digilas oleh buldoser, sebuah mahluk baru yang esuk lusa akan segera lahir semakin banyak, jelas sang Kyai.
Kemudian Santri bertanya, Jenis mahluk apakah itu ya Kyai??… Sang Kyai menjawab, namanya “Al-Konglomerat”…mahluk apa itu gerangan pak Kyai??, susulan pertanyaan dari Santri lainnya, itu adalah sebuah mahluk yang satu kakinya berada dibelahan bumi timur dan satunya lagi berada dibelahan bumi barat.
Pak Kyai itu pasti sebuah mahluk semacam Gatot Koco yang berotot kawat dan bertulang besi, celetuk seorang Santri, Bukan anakku…jawab Sang Kyai, otot mereka bukan terbuat dari kawat dan tulang mereka bukan besi, otot mereka adalah jalan-jalan TOL, tulang-tulang mereka adalah gedung-gedung pencakar langit. Jadi kalau begitu mereka sangat kuat ya Kyai, tanya sang Santri, ya… benar mereka sangat-sangat kuat, jawab sang Kyai, maka katakan kepada saudara-saudaramu dan anak-anakmu, jangan sekali-kali melawan meraka sebelum menghitung kekuatanmu sendiri. Lalu pak Kyai seberapa kuat persisnya mahluk yang bernama konglomerat itu, tanya lagi dari seorang Santri, Konglomerat itu sangat kuat, jangankan hanya seorang Demang, seorang raja saja akan tunduk padanya, jawab Kyai.
Kalau begitu sangat ajaib ya Kyai…..celoteh sang Santri, tentu saja…jawab sang Kyai…kalau konglomerat meludah satu tetes air liurnya saja bisa berubah menjadi berton-ton supe*mie, kalau dia bersin akan mengeluarkan beribu-ribu virus, jelas sang Kyai….lalu kalau mereka batuk jadi apa Kyai??? tanya seorang Santri,..kalau mereka batuk akan jadi Mall, Supermarket dan Plasa-plasa mewah…tandas sang Kyai… Wah kalau begitu luar biasa sekali mahluk yang bernama konglomerat itu wahai Kyai,…lalu makanan mereka itu apa Kyai…kejar sang Santri…..makanan meraka itu sejenis jajan yang bernama rakyat kecil, jawab sang Kyai,…Kalau begitu akan aku ajarkan ilmu binatang pada anak-anaku wahai Kyai…lanjut sang Santri,….loh….loh…apa maksutmu dengan ilmu binatang ??? tanya sang Kyai…Ilmu keserakahan Kyai…jawab sang Santri….sang Kyai tertawa…….kemudian menjawab…dapat ilmu sesat dari mana kamu ini,..siapa bilang ilmu keserakahan itu milik binatang….???. Pak Kyai ini bagaimana?? pembelaan dari sang Santri,…sudah menjadi pengetahuan sepanjang masa bahwa yang dimiliki oleh binatang adalah kerakusan, kekejaman dan kekejian…tandas sang Santri….Sang kyai tersenyum….kemudian menjawab …. tidak ada binatang yang rakus, itu tidak ada…binatang itu selalu berhenti makan kalau sudah kenyang, tidak ada binatang yang sudah kenyang masih terus makan, manusialah yang terus makan meskipun sudah kenyang…manusialah yang tidak pernah merasa cukup meskipun sudah memiliki ribuan perusahaan, dan manusialah dan bukan binatang yang merasa kurang meskipun di tangannya telah tergenggam seratus pulau, meskipun sahamnya telah terekspansi sampai ke hutan-hutan dan dasar-dasar samudra serta gunung-gunung yanga tinggi.. kalau seekor semut bergotong royong mengangkat sejumput gula, maka semut itu tidak akan mengengok kanan-kiri meskipun tepat disebelahnya terdapat sejumput gula yang lain, tapi manusialah yang sibuk mengisi perutnya dengan produk-produk makanan dan sibuk bertopeng dengan kosmetik-kosmetik jelas sang Kyai.

* Dari Cak Nun dengan beberapa “adaptasi”