Sorry kalo pake bahasa jawa… :D

Bunali pethuk Wonokairun lagi angon wedhus.

“Mbah, waduh wedhus sampeyan akeh yo ?” jare Bunali
“Yo lumayan ” jare si Mbah
“Pira kabehe, Mbah ?” takon Bunali maneh
“Sing putih apa sing ireng ?”
“Sing putih, wis”
“Selawe”‘
“Wik, cik akehe. Lha sing ireng?’”
“Padha…” jare Wonokairun ambek ngarit suket

Bunali takon maneh.

“Mangan sukete yo akeh pisan, Mbah..”
“Yo..”
“Pirang kilo mangane sakdina ?”
“Sing putih apa sing ireng ?”
‘Sing ireng, wis’
“Yo kira-kira limang kiloan”
“Lha sing putih?”
“Padha . . .”

Bunali bingung, la-apa lek ditakoni kok kudu mbedakna sing putih tah ireng, wong wangsulanne yo padha ae.

“Mbah, apa-a lek tak takoni perkara wedhusmu, sampeyan mesti leren takon sing putih tah sing ireng barang.
Padahal masiyo putih utawa ireng, wangsulanmu padha terus.
Sakjane ngono ana apa?”

“Ngene lho, sing putih iku wedhusku…”

“Lha sing ireng ?”

“Padha . . .”
——————————————————————————

John mengundang ibunya makan malam di apartemennya. Sewaktu makan, ibunya selalu memperhatikan betapa cantiknya teman se-apartemen anaknya John.

Sang ibu malah sudah lama memendam kecurigaan adanya hubungan istimewa antara John dan teman se-apartemennya dan oleh sebab itu menambah keinginantahuan sang ibu tentang hubungan anaknya itu. Hingga malam hari, sang ibu memperhatikan bagaimana kedua insan itu berinteraksi sang ibu mulai ber-tanya2 dalam hatinya ada apa dibalik hubungan John dan temannya itu yang tidak kasat mata.

Membaca pikiran sang ibu, John berkata,”Saya tahu apa yang ada dalam pikiran ibu, tetapi saya jamin, Julie dan saya hanyalah TEMAN BIASA saja.”

Satu minggu kemudian , Julie mengatakan pada John, “Sejak ibumu datang makan malam, saya tidak dapat lagi menemukan sendok perak kuah itu. Kau tidak akan mengira ibumu membawanya bukan.”

John berkata,”Aku meragukan hal itu, tetapi untuk memastikannya aku akanmenulis surat padanya.

Lalu John menulis suratnya sebagai berikut :
Ibu yang tercinta, Saya tidak mengatakan ibu “mengambil” sendok kuah dari apartemenku, dan saya juga tidak mengatakan ibu “tidak mengambil” sendok kuah itu. Tetapi faktanya adalah bahwa sendok kuah itu raib sejak ibu datang makan malam disini.

Beberapa hari kemudian John menerima surat dari ibunya yang berbunyi :
Puteraku sayang. Ibu tidak mengatakan kau “tidur” dengan Julie, dan ibu juga tidak mengatakan kau “tidak tidur” dengannya. Tetapi faktanya adalah bila ia tidur ditempat tidurnya sendiri,ia akan menemukan sendok kuah itu; Ibumu tercinta.

Pelajaran untuk hari ini —— “Jangan membohongi ibumu”

** diadopsi dari website tetangga…